Welcome blog Mba Nana gengs!

Diario Area | Diario Travel | Diario Outfit | Diario Love | Diario Diario

Minggu, 22 April 2018

Aku kalut dalam kerunyaman


Menjadi yang terbaik... bukan hanya suatu kiasan yang di inginkan semua orang. Yang terbaik itu pencapaian, mimpi, penggapaian, target, patokan, tolak ukur, keindahan bila akhirnya dicapai 

Yang ku tahu semua orang juga ingin bisa bahagia, bukan hanya aku saja. Tapi jalan menuju bahagia kadang kala banyak rintangan, kusutnya perjalanan, bahkan badai yang sulit dilewat. Lantas kalau sudah sulit harus bagaimana? Menyerah kah

Ada pepatah berkata kalau hidup itu perjuangan, tak boleh mudah tuk menyerah. Baiklah aku setuju. Tetapi...

Kalau sudah berlipat lipat kali merunyam kegagalan akan suatu yang ingin dicapai, lantas apa masih harus tetap berjuang tanpa mengaku kalau sudah kalah? Artikan menyerah. Apa masih harus terus melaju sampai akhirnya berhasil didapat? Ada yang menjalur dalam satu dayungan kelak berhasil. Ada yang sudah di dayung beribu-ribu kali tapi masih juga belum dikatakan berhasil. Lantas, mengapakah begini?

Aku benci untuk selalu kalah. Satu kali sampai lima kali tak apa walaupun kan berakhir melelahkan sampai hanya menyisakan sedikit tenaga saja untuk berjuang di sisanya. Mendayung lagi pun untuk kesepuluh kalinya tapi masih juga tak berhasil. Aku sampai lelah untuk selalu mendapati banyak penolakan tanpa pernah melihat anggukan dan mendengar sebuah kata ya, saya setuju. Aku lelah ya gusti. Harus sampai kapan lagi? 

Mimpiku kini melaju jauh dari anganku dulu. Mimpiku yang selalu ku sebut dalam doa dan tak pernah kau ladeni pun ku kira kau sependapat juga, tapi ternyata takdir berkata lain hingga aku merasa engkau berada dimana kini? Perkara ku selalu ku serahkan pada gusti tapi dengan usaha maksimal ku. Tapi nyatanya seakan aku hilang akan gusti. Aku benci untuk terus memikirkan 

Sesuatu itu... yang buat ku bercerai air mata setiap harinya. Dari hari ke hari selalu berjuang tanpa menyerah, selalu saja setiap akan mengambil jalan resiko baru tapi selalu ku dapati sodoran penolakan terlebih dulu, padahal aku akan siap untuk kisah selanjutnya. 

Berbagai penolakan banyak kuterima sampai sesak rasanya. Mungkin kalian tak akan mengerti, tapi percayalah, penolakan ini amat sakit rasanya. Setiap orang yang kutemui, bagai berkata bahwa takdir menolakku untuk mencapai mimpiku setinggi angkasa. Takdir bagai berkata bahwa aku masih harus berjuang mengemis dari bawah tanah, lagi dan lagi, terus menerus. Seakan takdir belum rela bila aku sudah dapat menyentuh angkasa. 

Hari hari ku hanya menangis kalut dalam kerunyaman sebagai wujud pelarian hati. Tanpa tangis artinya ku bahagia, maka itu ku menangis agar takdir menjadi saksi mata bahwa aku sedang sedih karena impiku tidak di setuju oleh banyak pihak, karena mereka semua sibuk untuk asyik dalam menolakku sejatuh jatuhnya. 

Jumat, 23 Maret 2018

What is friends for?



Dulu jamannya baru pindahan rumah dan jadi warga baru tanpa kenal keliling sekitar, ibu nyuruh buat kenalan sama anak-anak yang lagi main sama temen-temennya disekeliling rumah. "sana kenalan biar ada temen!" begitu katanya. Tapi gue masih tetep enggak berani untuk deketin mereka. Sampai akhirnya ibu nganter gue, nyodorin gue ke mereka seolah gue bagai barang sogokan "ini kenalan sama temennya, ajak main yaaa" kata ibu begitu ke mereka, terus ibu pergi balik lagi kerumah. Gue ditinggal sendirian. Diem. Ngeliatin mereka aja. Karena bingung alhasil gue ngekor mereka kesana kemari, cuma sekedar mengikuti kemana arah mereka tanpa suara yang keluar dari mulut dan cuma diem aja. Lalu kenalan sampai akhirnya pun jadi main bareng dan sampai lama jadi kebiasaan buat main bareng terus terusan. 

Umur semakin menambah, kualitas anak baru gede gue semakin menjadi. Keinginan buat menghabiskan waktu lebih banyak bareng teman-teman semakin meningkat dengan tujuan supaya ada kerjaan dan supaya perasaan jadi senang. Enggak dipungkiri, main bareng temen-temen itu bisa bikin senang. Semakin naik lagi umur, gue Sma, disitulah gairah untuk bermain semakin meningkat. Gaya hidup nongkrong disering-seringkan karena kebawa sama peradaban kalangan anak masa kini yang ditenarkan melalu media sosial. Nongkrong cuma pergi ke suatu cafe, cafe biasa yang penting menjual makanan dengan kualitas harga murah. Makanan enak menjadi satu pegangan untuk nongkrong menghabiskan waktu malam sampai jelang tidur. Itu terjadi saat remaja. Sebahagia itu rasanya. Enggak nongkrong aja, kerumah teman juga pula. Banyak waktu dibuang hanya untuk teman-teman tercinta dengan tujuan menghabiskan waktu dan supaya gue merasa bahagia. 

Menjelang kepala dua, teman satu persatu menghilang. Bukan ditelan bumi. Ada yang menikah dan sibuk sama urusan rumah tangga, ada yang sibuk mencari uang, ada yang sibuk sama dunianya. Mau meminta sedikit waktu dari teman rasanya susah. Ada yang diajak bertemu tapi justru lebih memilih pertemuan dia dengan kekasihnya. Sakit. Ada yang diajak bertemu tapi menolak dengan sejuta alasan. Perih. Pingin bahagia tapi bingung karena gak ada obyek supaya bisa bahagia. Memang teman obat paling ampuh untuk jadi amnesia sesaat tanpa beban hidup. Jadinya, menghabiskan waktu dipakai dengan teman yang memang satu bidang kala itu. Teman yang masih proses adaptasi bukan dengan sahabat-sahabat yang dulunya selalu bersua bersama kala malam hari hingga jam tidur dimulai.

Hingga kini dunia semakin terlihat bahwa seisinya itu adalah suatu politik. Melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan sesuai apa yang diinginkannya. Teman mendekati, teman membina obrolan baik, teman merangkul, teman memeluk, teman berjabat, kini semuanya sudah ada artinya. Bukan semata wayang tujuan tulus. Mendekati supaya bisa membantu koneksi, mendekati supaya bisa bertemu karena dilanda galau dan butuh pertolongan obat amnesianya, mendekati karena ada yang ingin dicari tahu, mendekati karena bisa membantu dari apa yang dibutuhkan si pendekat. 

Rasa polos yang dirasa waktu kecil mendekati teman dengan tujuan 'supaya punya teman' kini sudah bukan itu lagi alasannya. Melainkan mencari teman untuk 'jaringan koneksi yang bisa membantu', ya dunia semakin berpolitik. Bila memang laksana tak bisa membantu, tak diperlukan kembali, dijauhkanlah, disudahkanlah karena memang tak bermutu untuk dijalin tali silaturahminya. Sudah kodrat seperti ini mungkin? Lalu kepada siapa dapat menyandarkan kebahagiaan hidup? Cukup dengan bersyukur tak berharap atas apapun terlebih harapan pada teman seperti harapan masa kecil dulu. Bersyukur hanya sedikit saja dosisnya tapi efek nya jangka panjang.

Cukup bersyukur tanpa meminta lebih atau mengandalkan teman menjadi sandaran. Selain daripada teman adalah obat paling ampuh untuk melupa beban hidup, puncaknya teman juga alkohol kecewa yang dirasa paling perih. Cukup. Tak perlu berharap lebih. Karena sakit rasanya.

So, what is friends for? 


Minggu, 11 Maret 2018

Casual Pose Photoshoot at Eternity Costudio


Hai semua! Pingin bilang kayak biasanya seperti "Hai gengs!" Tapi males semenjak ada orang yang suka ngikutin cara panggilan khas mba nana ini. Yang jelas bukan teman-teman blog karena teman-teman blog punya karakternya sendiri huehehe. Emang gak enak ya kalo di ikutin, tapi sejujurnya gue juga ngikutin host di tv dengan manggil 'gengs' sih huehehe jadi pointnya sesuatu yang mengikuti akan dibalas dengan diikuti juga sama orang lain. Ah hukum kurma eh karma! 

Sekitaran bulan lalu tepatnya bulan februari gue di calling buat bantuin temen yang memang 'job sambilan' dia sebagai tukang foto atau bahasa kece nya photographer uhhhh gak serem gak kece gak kere keren, biasa aja gengs! Dia calling gue buat minta bantuan pegang kabel berpose-pose ria. Jadi begini...

Eternity costudio adalah studio dengan kebanyakan tema jepang didalamnya, tapi karena sudah berdiri cukup lama, seiring berjalannya waktu eternity jadi enggak cuma jejepangan aja, bisa masuk banyak konsep foto didalamnya. Sampai ada anak-anak yang magang di studio eternity itu, dan teman gue adalah kang foto nya yang sesekali harus memberi ilmu ke si anak magang entu. Dia calling gue bukan buat jadi mba pegang kabel, tapi buat bergaya normal seperti umumnya orang waras aja, lalu dijepret. Dan si kang foto ini yang ngajarin penjepretan dari segala liku-likunya ke si anak magang. Ngasih pendidikan gitu deh.

Hari foto tiba, gue datang, ganti baju buat dijepret, lalu disuruh masuk keruangan touch up. Ah gue cinta ruangan dandan! Sepanjang ujung cermin ada lampu-lampu yang dipasang, gue yang biasanya selalu terlihat dekil kumel and the cute tapi kini jadi jelita bersih tanpa jerawat. Terus gue dandan sendiri dengan bahagianya. Bener-bener bahagia!

Gue kira fotonya berkonsep, ternyata biasa saja. Baju alakadarnya tanpa embel-embel dan berpose tanpa lika liku. Yang jelas kang foto dan gue sembari memberitahu ke anak-anak magang pelajaran atau tips yang baik untuk melakukan photoshoot dalam versi kita. Mungkin kalau dari kang foto mengajari cara mengatur-atur kamera supaya hasilnya bisa terbilang sempurna. Sedangkan gue mengajari hal-hal koreo gaya dalam berpose supaya kelihatan bagus saat di jepret. 



Gue juga memberitahu ke anak-anak magang tips supaya model kelihatan berkelas di dalam kamera adalah dengan berpose 'tanpa menutupi jenjang lehernya' berbeda lagi dengan yang berhijab, kalau no hijab, usahakan jenjang lehernya terlihat. Karena jenjang leher itu seperti lekuk dari keindahan bodyshape. Karena kalau tertutup, jelek aja gitu dilihatnya. Boleh dicoba dirumah agan-agan sekalian. 

Selanjutnya gue cuma ngejalanin pose natural aja tanpa embel-embel komentar yang benar berkonsep. Judul dari foto dibawah 'let it flow', semacam natural hidup, belajar menghargai penerimaan, ikhlas untuk segalanya. Ah lagi-lagi pikiran gue berangan-angan. 



Ngajarin anak-anak magang bagai 'gue yang jadi gurunya' yang selalu dilihatin mulu kemanapun gue berdiri, gue bicara sehelai pasti mata mereka selalu mengarah ke gue tanpa kedipan. Dan gue merasa, mereka menghargai gue ketika gue membeberkan tips. Walaupun mungkin yang mereka rasakan lagi nahan kantuk berat, lagi bete dengerin ocehan mulu, lagi nahan laper, lagi nahan boker kapan kelarnya, yah seperti yang pernah gue rasain waktu jadi siswa maupun mahasiswa deh.

Tapi, perasaan yang gue dapet ialah gue jadi merasa senang karena petuah embel-embel dari yang gue bicarakan juga mereka butuhkan. Ah bahagianya jadi guru sesaat! Nah sebelum udahan, karena gue orangnya suka ngajak foto bersama supaya kelihatan bahagia di foto, kita pun foto. Foto bersama bisa berguna untuk laporan karya tulis hasil magang dan bisa buat kenang-kenangan di album. Perkenalkan...
satu lagi. lupa akun



Sedikit gambaran cuplikan gue kemas dalam video dibawah. Cekindot ya! :)






Rabu, 21 Februari 2018

Sedikit cerita konyol di warung starbucks

Sabtu ini tepat di warung starbucks dekat pamulang gue dan partner melajur ke warung starbucks yang gak jauh dari tempat tinggal, iya cuman berdua aja karena niatnya mau menukarkan kupon yang tersebar di line tentang 'buy 1 get 1' only di starbucks. Karena gue pikir kupon beli satu gratis satu sama aja dengan harga per satu minumannya sekitar 25.000. Kan murahhhh! Bikin ngilerrrr! Karena tanpa adanya promo starbucks, mau minum di warung sbux tiga bulan sekali itu belum tentu... Gak akan sanggup malahaaannn!!! Bener-bener miris.





Lanjut ke cerita, gue tiba di warung dan langsung suruh partner untuk buka ponsel tentang kupon beli satu gratis satu. Tapi sayang enggak bisa, karena ponsel partner enggak ada data internet dan ponsel gue juga enggak ada data internet. Jadilah kita gembel modem! Bhak! Nunggu giliran antrian, gue tanya ke mas-mas sbux...

"Mas, promo buy one get one di line ada kan?" 
"Iya ada. Tunjukin aja kuponnya" jawab mas warung sbux
"Tapi saya gak ada data internet. Ada wifi gak?" 
"Ada. Namanya starbucks klik aja langsung aktif."

Gue suruh partner cek modem gratisan sembari gue melihat-lihat menu apa yang bakal gue pesan. Tapi ternyata gue melihat minuman yang dipajang seharga 29k. Dua hari yang lalu ada promo satu minuman seharga 29k, gue kira promo itu udah selesai tapi ternyata masih berlaku sampai akhir februari. Terbelalak lah mata gue. Tanpa pikir panjang gue pun langsung pesan promo seharga 29k. Partner gue pun ikut-ikutan. Gue pesan rasa frapucino, partner pesan rasa green tea latte yang warnanya ijo ijo kalbu. Saat ditanya namanya gue menjawab dengan nama "nana" tapi entah apa yang di tulis si mas-mas benar atau enggak. Lihat kelanjutannya

***

Setelah bayar orderan sembari menunggu minumannya matang gue bergerak arah ke meja waiting pesanan. Enggak lama minuman pertama tiba dengan nama orderan "WAN" dan dibenak gue tersirat bahwa 'oke itu bukan minuman gue. Tapi mana ya orang yang punya minuman?' Minuman disediakan tanpa ada yang mengambil, tanpa dicari yang punya bahkan. Gue kembali menunggu. Karena kelamaan gue mengambil ponsel di tas, menyambungkan modem wifi ke ponsel dan EH tersambung yes! Gue senang. Tapi sayang, kekuatan modemnya hanya cetek, untuk menunggu pesan di whatsup aja lama banget. Karena kelamaan gue berdiam diri aja melihat-lihat sekeliling mencari sosok nama Wan yang minumannya udah jadi dari lama tapi masih belum diambil juga, gue ngeri aja itu minuman keambil orang lain. 

Antrian pelanggan dibelakang gue pun sampai usai, sampai nunggu di meja waiting orderan bareng gue, berdiri samping-sampingan sama gue. Dua minuman selanjutnya dateng yaitu rasa frapucino cokelat pesanan gue tapi dengan nama "NANDA", dan green tea latte pesanan partner tapi dengan nama "NAN". Oke fix ini salah nama kayaknya. Entah salah nama atau memang ada yang memesan dengan nama ini. Tapi gue lihat sekeliling enggak ada orang yang nunggu sama antrian pesanan ini kecuali gue, orderan pertama udah ada WAN, orderan kedua ya gue, nana. Orderan ketiga minumannya belum jadi. Karena gue merasa minuman itu milik gue walaupun salah nama, atau milik majikan yang hilang gitu aja gak butuh minumannya, maka gue ambil aja dua pesanan tadi. Ambil sedotan dan tissue disebelahnya, beranjak deh ke bangku partner. Buka sedotan, tusuk, seruput sampai lidah jadi basah. Ah seger!

Enggak lama gue sadar, ukuran minuman gue jauh lebih kecil daripada punya partner. Mulut menganga mata belalak kedap kedip. 




Enggak begitu kelihatan perbedaannya tapi coba dilihat tinggi tutup botolnya agak beda. Lebih tinggi yang hijau daripada coklat. Karena tinggi botolnya beda padahal orderannya sama-sama seharga 29k, gak mungkin dong yang green tea latte dapet ukuran 16oz (medium) sementara gue tetap yang reguler. Gue jadi dilanda panik tapi aussss. Mau nyeruput tapi deg-deg an. Gue juga deg-deg an, nanda ini minuman gue atau orang lain.

Gue diomelin sama partner ngebucks kala itu, gue disuruh balik lagi tanya ke mas-mas sbux lebih jelasnya. Niatnya mau gue lakuin, tapi gue urungkan karena gue dilanda malu kalau memang gue yang salah. Maju ke meja kasir nanya-nanya tentang minuman aja rasanya malu, lebih malu lagi kalo emang gue ketauan salah ambil minum. GAK MAUUUU!!! Sama aja bunuh diri. HUAAAAA

Setengah jam berlalu gue diem-dieman. Nongkrong ala gagu. Dia kesel, gue bingung. Jadilah gagu. Untung gue bawa laptop, gue mainin aja sambil berusaha mencairkan suasana yang kacau tegang gue alami. Frapucino udah gue seruput berkali-kali sementara green tea partner sama sekali belum kesentuh. Gue dibilang cuma mikirin diri sendiri doang karena enggak menyelesaikan kasus minuman yang salah. Tapi gue coba bantah dengan omongan kalau gue enggak mikirin diri sendiri doang, gue justru lebih mikirin partner karena biar enggak kehausan parah makanya gue kasih minuman yang ukurannya jauh lebih banyak daripada frapucino gue, mulia sekali ya mba nana. Bisa-bisanya bertindak mulia dalam situasi nakal. 

Tiba-tiba datang mas-mas warung sbux keliling meja pelanggan, gue duduk menatap laptop sembari sesekali memerhatikan mas-mas sbux. Gue mulai terbesit kalau ketahuan salah ambil, gue harus punya ancang-ancang untuk bicara apa. Hampir mas-mas sbux berdiri dekat meja gue, tapi setelah itu dia balik. Gue napas. Lega. Padahal gue udah mikir jawaban kalau-kalau terjadi sesuatu seperti ini...

Mas sbux: Mba, minuman green tea ini pesanan mba?

Mbanana: Iya

Mas sbux: Atas nama siapa?

Mbanana: Nana

Mas sbux: Coba baca tulisannya di cup (sambil nunjuk cup green tea)

Mbanana: Waktu sama mau ambil di antrian nunggu orderan, saya bacanya "NAN". Minuman frapucino saya aja namanya "NANDA" padahal saya mesannya dengan nama "NANA", saya pikir mas yang nulis nama sedikit budeg enggak denger makanya salah nulis. Jadinya saya ambil aja karena saya kira memang ini minuman saya. Udah duduk baru saya baca teliti. Green tea ini namanya bisa jadi "WIN' bisa jadi "NAN". Saya kira orderan WIN udah selesai satu minuman doang enggak ada yang ngambil minumannya. Lalu orderan kedua datang, ya saya kira memang punya saya karena saya urutan kedua setelah WIN. 

Begitu cuap cuap yang udah gue rancang di otak. Konyol banget kejadian kayak gini. Sama sekali bener-bener gak ada rekayasa atau dengan sengaja gue lakuin. Bingung, ini yang salah letaknya dimana? Apakah mas si pembuat nama? Bisa dilihat di cup green tea. "W" nya benar-benar mirip "N" atau salahnya ada di mata gue yang sedikit linu butuh dipijat?

Mas-mas sbux pergi, gue paksa partner buat minum. Minuman udah jadi, kejadian juga udah berlalu 45 menitan yang lalu dan minuman belum juga kesentuh. Gue mikir kalau si pemilik minuman si WIN udah lega minum green teanya. Permasalahan antara WIN sama mas-mas sbux juga pasti udah kelar. Gak mungkin diperpanjang kaya ulet, capek juga mereka, banyak urusan. Akhirnya gue menyelesaikan kasus dengan menjalaninya aja. Bagai gak ada tanggung jawab. Yah gak apa daripada gue kena malu. Lagipula bukan salah gue sepenuhnya. Mas sbux salah nulis, Win salah karena enggak ngejagain minumannya, gue salah persepsi. Emang dasar orang suka gini, udah tau salah, masih aja bela diri sendiri! Cukimay gak mau disalahin! Yah maklum... Manusiawi. Huehehehe


Kamis, 08 Februari 2018

Cobain kuliner kerang kiloan

Heyooo! 
Pecinta kerang juga? 
Penaksir kerang juga?
Atau belum pernah gadoin kerang-kerang lautan? 
Atau pingin makan kerang tapi gak tau kerang-kerang enak dimana?
Ini dia gue mau kasih rekomen cafe yang jual kerang-kerang enak yaitchuuuu "MAMAJI KERANG KILOAN" kala itu gue makan di daerah bintaro. Tapi kalo di cari di google gue nemu banyak cabang sih soal mamaji kerang kiloan ini. Ternyata jual di ciledug ada, jual di serpong juga ada. Sekitaran jabodetabek masih terbilang aman untuk kuliner mamaji kerang kiloan ini lah yaaa! 


Tampak dari depan yang sedikit blur. Enggak sedikit. Emang blur beneran.

Lantas kendaraan gue parkirkan dibarisan parkir depan, lalu masuk dan beranjak ke lantai atas karena dilantai bawah udah penuh semua meja terisi orang makan kerang kiloan. Jelang naik ke tangga, gue ngeliat ada berbagai perabot mainan yang bisa dipakai main untuk pengunjung disana. Ada sepaket kartu uno, congklak, dan mainan lainnya tertata diatas meja dekat tangga. Gue kelantai atas dan ternyata beuhhhhhh sepiiiiiii gengs, cuma terisi satu meja dengan dua orang yang makan disitu. Keadaan dilantai atas kurang lebih seperti ini

tangga ada di samping tembok hitam 

ruangan tertutup tirai kerang itu adalah toilet, bisa untuk cuci tangan atau buang duit hajat

ini dia tatanan bangku diatas. ada teve juga tapi sayang teve nya dimatikan 


Setelah memilih bangku enggak lama mba-mba yang dari lantai bawah datengin kita naik keatas dan ngasih menu pilihannya. Awalnya gue membaca-baca dulu menu kerangnya, tapi makin lama gue makin bingung karena enggak tersedia gambar kerang, cuma tulisan pilihan menunya aja. Dari kebingungan itu timbullah pertanyaan. Seketika mba-mba pelayannya gue wawancara dalam durasi yang sedikit lama, bagai wawancara masuk kerjaan ini mah. Untung mba nya sabar, tepuk tangan untuk mba nya. Prak prak



Setelah memilih menu pilihan gue berniat untuk memainkan perangkas perabot mainan yang memang disedian untuk customer yang terletak dilantai bawah. Maka gue berniat ambil mainan dibawah itu buat dimainin diatas. Gue cuma ngambil congklak karena kayaknya udah berabad-abad tangan enggak megang biji congklak, megangnya biji yang lain seperti biji kerikil, biji kopi, biji recehan bahkan. Sedih yah tangan ini



Congklaknya bagus! Ini namanya congklak modern. Jaman gue kecil belum pernah tuh gue lihat ada congklak pahatannya sebagus ini, congklak yang sering gue mainin ya congklak yang terbuat dari plastik. Terlalu minim pengetahuan gue soal dunia modern kala itu. Emang sedih yah idup ini. Atau idup gue doang yang sedih kayaknya. 

Setelah menunggu lama akhirnya suatu yang ditunggu-tunggu datang juga! Pesanan untuk disantap datang dan siap untuk dilahap. Ah udah gak sabar rasanya. Sebelum menyantap gak lupa gue foto dulu untuk di abadikan di sosial media dan jejaring blog ini supaya kalian juga tahu jenis kerang apa yang akan gue makan. Maka itu gue perkenalkan, ini dia... si jali jali



Pesanan pertama, ini sebutannya "Kerang Hijau" yang sebelah kiri Kerang Hijaunya direbus, dan sebelah kanan Kerang Hijau yang sudah menjadi ke oren-orenan itu di goreng. Karena perbedaan cara pemasakan makanya hasil akhirnya pun juga beda begitu pula rasanya juga beda. Kerang hijau ini sering banget ditemuin masyarakat karena biasanya abang-abang sering jajakin dagangan kerang hijau keliling dengan kisaran harga dua ribu saja sudah bisa dibeli. Dan ternyata rasanya gak beda jauh seperti kerang abang-abang! Kalau kerang yang digoreng rasanya sedikit berbeda, sedikit sulit dijelaskan.


Pesanan kedua, yaitu namanya adalah "Kerang Bambu" sama halnya kerang sebelah kiri direbus dan yang sebelah kanan digoreng. Rasanya juga berbeda. Gue beli kerang bambu atas dasar gue kepo dan tertarik ketika melihat gambar kerang bambunya. Padahal gue belum pernah icip kerang ini sebelumnya. 




Ini dia camilan yang kita beli supaya seisi perut bisa penuh muatannya. Ini semacam udang yang dikasih tepung gitu, bisa dilihat digambar. Kalau dari kedua kerang diatas gue cenderung lebih pilih "Kerang Hijau" padahal yang gue beli adalah "Kerang Bambu" loh huahaha.

Kenapaaa? Rasanya kerang hijau lebih berasa bumbu kaldu semacam gurih gitu daripada kerang bambu yang memang asli rasa kerang bambu. Kerang hijau ada rasa manis, gurih, enak deh pokoknya ketimbang yang bambu. Entah gue gak tahu berbeda dari rasa kerangnya atau memang dari racikan bumbu yang ditaburin sama chef nya, tapi gue lebih condong ke kerang hijau gengs. 

Gue makan dengan lahap beserta nasi yang disedian dan sampai akhirnya habislah makanan itu. Akhirnyaaaa, gue enggak membuang rejeki dengan cuma-cuma melainkan benar berguna. Lihat nih huehehehe


Nasi bersih mengkilap kerang habis minuman terseruput dengan baik dan tong sampah kerang pun terisi dengan penuh. Benar-benar baru kali ini gue makan ditempat yang emang cuma condongin kelebihan dari kerangnya aja, tapi tetap disediakan menu seafood lainnya walaupun enggak semua. Selain dari harganya yang terbilang miring, tempatnya juga bagus karena nyaman dan bersih. Bisa dibilang, 40 ribu udah cukup untuk seorang. Bahkan terbilang lebih. Karena kalau mau versi iritnya, 30 ribu an deh paling banterrr cukup untuk seorang. 

Bisa banget ini tempat buat dicoba oleh pecinta kerang sekalian. Apalagi kalau mau seru-seru ramean sama gengster, dijamin tempatnya gak akan ngebosenin buat nongkrong. Kalau memang udah bosen, bisa banget dicoba permainan yang memang udah disedian buat dicoba. Selain nongkrong berguna buat sharing satu sama lain, nongkrong disini juga bisa buat ngilangin kepenatan dengan nyoba permainannya ditambah bakal ngenyangin perut karena kerang-kerang yang disediain emang WAAAGELAAASEEHH bangeeettttt!!!







Minggu, 21 Januari 2018

Aku, dan cuma Aku


Aku. Diam saja sudah buatku nikmat kehidupan

Siang ditengah terpaan hujan deras nan curam, rasanya dahaga bagai bahagia datang kembali ke permukaan. Bukan bahagia senang melainkan, hanya bahagia sebagai tanda bahwa aku bersyukur untuk semua ini 

Kesendirian ku ialah sendiri
Kesendirian ku bukan curam ku 
Kesendirian ku hanya sebuah sendiri yang orang lain tak pernah merasa 
Aku, bagai aku seorang di muka bumi ini
Hidup tanpa bayangan apapun, tanpa sentuhan khas dari orang - orang diluar
Tapi sudah cukup untuk buatku bahagia

Sesekali cinta datang untuk menyejukkan hati
Tapi datangnya cinta hanya untuk bertamu, bukan untuk menetap
Yang ingin pergi pasti kan pergi
Yang ingin bersama akan terus bersama 
Ku akui semua itu terjadi atas seijin takdir semesta 
Kalau memang seharusnya begitu 


Terkadang aku hanya butuh secangkir kepahitan. Seperti yang orang-orang anjurkan bahwa pahitnya kopi sama dengan pahitnya hidup yang kamu rasa. Bila diminum, semua akan berasa nikmat menjadi kesejukkan serta keikhlasan bahagia. 

Aku bersemayan dalam ruang kosongku, hanya berdiam diri dan merenung menanyakan suatu akan filosofi yang sama sekali tak pernah muncul untuk ditanyakan. Mengapa manusia akan lebih baik bila bersama? Mengapa cinta dan dicintai itu merasa perlu dan bukan hanya sekedar untuk sementara? Mengapa pundak dari bahagia adalah bila kita ber-sepasang? 

Menjadi sepasang atau berdua adalah atas kemauan takdir, bukan semua wujud manusia ingin berdua. Tidak semua. Untuk memulai berdua saja sulit, apalagi bila dijalani, bagai rintangan satu persatu. 

Mencocokkan dua hati itu adalah perkara. 
Tapi mengapa perkara itu adalah suatu kewajiban untuk semua orang?
Mengapa takdir semesta sangat menyulitkan? 
Bagaimana bila aku cinta untuk menjadi sendiri? 
Bagaimana mewujudkan berdua adalah problematika hidup?

Aku lelah untuk menyamakan kedua hati yang berbeda, semesta. Berat rasanya. Dua insan dalam dua benak kacau yang berbeda. Untuk disatukan rasanya bagai perang hirosima nagasaki, perlu meledakkan dahulu keduanya. Syukur bisa menjadi satu, lantas kalau berpisah karena insan yang dihantam sangat berat bebannya? Lalu kembali lagi mengapa takdir harus berdua? 


Cuma pahitnya kopi adalah temanku kala bebanku serasa menghantam jiwa. Kesendirianku amat lebih baik dari rasa kamu menggandeng lenganku lalu menghempasnya saat kau tahu bahwa aku bisa menjadi pribadi diluar batas. Hanya diluar batas dari benakmu, pangeran. Bukan diluar batas seperti kebanyakan orang. 

Kalau ikhtisar dari mencinta adalah menjalin menjadi satu, lantas mengapa kami mempunyai pikiran untuk tak menerima perbedaan? Mengapa semesta memberikan?



Lagi-lagi isi benakku hanyalah sebuah ilusi pertanyaan yang sama sekali aku tak tahu apa jawabannya. Kalau aku bertanya pada semua orang, mereka hanya diam dan bingung mencari jawaban. Kembali aku diam lagi. Selain dari hal nya kopi, buku adalah sandaranku. Aku benar benci untuk mencinta. Seperti pengorbanan yang tak dibayar jasanya. Syukur dibayar dengan bahagia, bagaimana bila dihempas? Mari di ikhlaskan semua rasa.

Ah aku lelah. Menjadi pemenang hati seseorang bukanlah handalanku. Yang ku tahu, bakatku adalah menjadi pemenang sendiri. Kesendirian adalah nikmat surga yang ku rasa. Aku, tak butuh belaian lembut serta kecupan mesra lainnya. Semuanya itu hanya nikmat sesaat karena suatu saat akan kembali dihempas dan lalu ditinggal pergi. Apa itu rasanya bahagia? 



Bersandar pada ruangku adalah wujud penerimaan hidup. Aku harus merasa bahagia. Dia, hanya mainan hati dari sedikit waktuku dalam hidup. Mengapa hati ku terus mengalun karenanya? Mengapa terkadang logika tak sejalan bahkan perasaan lebih bisa untuk memenangkan daripada logika? 

Dia yang datang untuk mengenalmu semula lalu berniat pergi setelah mengetahui keburukanmu bukanlah orang yang tepat bagimu. Alangkah lebih baik bukan untuk menunjukkan sisi buruk pada masa pendekatan daripada setelah janur kuning lalu diketahui semua segala sisi buruk? Syukur bisa diterima, kalau tidak? Akan ada penyesalan serta tangisan yang hebat. Memang kita hanya jagung rebus setelah dikunyah lalu dibuang ampasnya? Kita juga manusia yang butuh dikasih dan sayang 


Kini aku kembali sendiri pada ruang kosong ku. Duduk berdiam hanya melamun sesekali ku pejamkan mata sebagai tanda ku jalin komunikasi pada semesta. Aku bersyukur walau semua ini terasa sakit yang tak seberapa. Aku lebih baik bila aku sendiri. 

Mungkin takdir memang harus begini. Mungkin aku bisa bahagia dengan belaian bila ku terapkan penerimaan hati. Apa aku perlu memperbaiki diri? Kalau ditinggal dan dihempas lagi, akankah aku masih belum cukup baik sebagai seseorang? Seburuk itukah aku? 

Kesadaran memang perlu buat semua, tapi disadari atau tidak, ikhtisarnya semua manusia sama saja. Punya sisi baik maupun buruk. Buruknya dia tak dimiliki orang lain, baiknya dia juga tak dimiliki orang lain. Cinta hanya perlu penerimaan. Penerimaan cinta itu ialah menutupi segala keburukan sehingga bahagia kan datang abadi.

Ah hujan masih belum reda tapi kopi pahitku sudah habis. Ku letakkan kopi yang ku genggam sedari tadi keatas meja kecil sampingku, kembali ku menyandarkan diri pada kasur empuk ini, memejamkan mata untuk sesaat lalu tersenyum seraya berucap dalam hati "Aku, dan cuma aku adalah pemenang dari sebuah bahagia bila aku sendiri" 

Rabu, 10 Januari 2018

Mari menggibah soal 'KELULUSAN'

Soal lulus nih, antara dunia tegang dan kebahagiaan. Menyatu penuh duka 

***

Halo gengs seperti yang kalian tahu bahwasannya gue udah lulus sekolah menengah atas dan sedang menduduki masa-masa perkuliahan menuju semester akhir bahkan setelah kelar liburan ganjil di bulan januari ini, gue akan kembali masuk perkuliahan dengan menduduki semester akhir alias semester 8. Dengan semangat semua prosedur yang udah gue lakuin di masa-masa semester pendek udah berakhir, seperti contohnya tugas-tugas pelajaran di semester kecil bisa gue licinkan, kuliah kerja praktek bisa gue jalankan dan seminar proposal atau yang kalian tahu dengan sebutan sempro udah gue jabankan dan sekarang gue going to the next level! Huyeehhh

Baru hari kemarin di budi luhur sedang berlangsung sidang semester akhir yang ternyata mereka semua adalah temen-temen yang seangkatan bareng gue, masuk sama-sama tahun 2014 dan hebatnya mereka bisa lulus dalam jangka waktu 3 setengah tahun. Gimana gue bisa tahu? Of course dengan adanya instagram yakni popularitas media untuk dunia bergengsi memberitahu gue kalau mereka semua bisa lulus, bahkan ada yang lulus dengan gelar cumlaude dan berbagai aktivitas yang mereka lakuin dengan teman-teman yang memberi surprise, foto bareng, lempar bunga bareng, makan bareng, cengengesan  bareng, nyengir bareng, mandi bareng senyum bareng pun tercemar di dunia instagrammer. Tentu jelas gue bisa melihat semuanya. 

Gambar terkait

Seperti yang gue rasakan saat selesai sempro, disitu kepuasan dahaga lega segar seperti abis minum teh botol sosro menyatu dalam jiwa, rasanya bahagiaaa! Mungkin rasa itu semua yang dirasain teman-teman yang abis lulus sidang kemarin. 

Sebenarnya waktu gue sidang sempro kemarin jatuhnya gue menduduki sidang ulang, banyak temen-temen lain yang juga sidang ulang, dan lebih banyak lagi temen-temen yang rusak atau salah pada paper sempro sama seperti punya gue tapi mereka enggak diberi sidang ulang bahkan di sidang dengan satu pertanyaan aja. Rasanya buat gue itu semua enggak adil. Ketika dosen sidang menyidang anak-anaknya dengan rasa mood bagus atau mood udah bosan. Waktu gue pertama sidang sempro yakni mood dosen gue lagi masa-masa semangat, gue maju urutan absen nomer pertama dan dibeber semua pertanyaan sampai akhirnya dia menghakimi untuk gue sidang ulang karena jawaban ragu-ragu yang gue beri. Giliran teman, cuma dikasih satu pertanyaan habis itu dinyatakan lulus. Banyak teman yang memberi jawaban ragu juga setelah itu dinyatakan lulus. Fix gue dibuat kesal sama itu dosen. Karena gue dibuat kesal sama dosennya, semangat gue jadi terpacu untuk segera meluluskan sempro. 

Gue takut dalam skripsi nanti gue harus dinyatakan sidang ulang lagi... Dalam sidang ulang, otomatis akan ada revisi ulang. Gue amatir sendiri. Gue emang harus bener-bener fokus dan paham sama skripsi gue. Itu sih sooo pasti. Udah harus. Sekian hal yang gue utarakan sebagai bentuk curhatan ke amatiran skripsi. 

***

Lanjut ke temen-temen yang abis kelar sidang kemarin, ada temen yang masih pagi buta udah langsung update ke instagramnya dengan menunjukkan bahwa dia udah lulus sidang. Dalam foto, properti yang dibawa hanya segempok kertas dengan isi surat pernyataan bahwa dia lulus dan kertas lainnya yang gue gak tahu. Menjelang siang, sebagian teman update dengan bawa properti bucket bunga dan foto sama segerombolan geng kapak nya. Dan muncul pertanyaan, kenapa setiap kelulusan skripsi gini para perempuan pada foto-foto sambil memeluk bucket bunga atau bucket cemilan? Kenapa gak memeluk pasangan aja? Loh, itu mah sesi pernikahan X)

Gue jadi berfikir, kalau mereka diberi bucket bunga oleh teman-teman yang satu geng dengan dia, gimana kabarnya sama orang yang gak punya geng teman-teman dekat? Terus ketika orang itu keluar kelas dengan hasil lulus sidang akan keluar dengan wajah sumringah bahagia tapi tanpa orang-orang disekelilingnya gitu? Ketika temen-temen pada foto ramai-ramai sambil bawa bucket dan si dia yang sendirian itu cuma bisa foto sama kertas pernyataan kelulusan seorang diri gitu? Apa geng yang ramai-ramai mau tanggung jawab atas kemalangan si dia yang sendirian ini? Pasti ada rasa iri dari si dia yang sendirian. Sungguhhh itu sih namanya kenikmatan kelulusan kesendirian. Paket komplittt! Tapi kembali lagi, semuanya harus disyukuri. Tapi apa iya bakal ada orang yang kayak si dia? Andaian ini buat gue malalang buana. 

***

Entah seperti apa proses skripsi gue nanti masih menjadi misteri.
Apa skripsi lancar sesuai jangka waktu dua bulan? Apa gue dinyatakan gak lulus dalam sidang? Apa gue akan sidang tahun ini? Apa gue dinyatakan ulang sidang? Apa gue bisa lulus tahun ini? Apa gue dilulusin atas dasar kasihan atau murni lulus atas pencapaian yang udah dilakuin? Apa gue dapet segemprok bucket? Apa bucketnya berisi uang atau cuma berisi sandal swallow? Apa gue akan bahagia? Ah semuanya masih misteri. Gue cuma bisa nyiapin diri untuk fokuskan diri ke skripsi dan bertarung menjadi pemenang debat dalam sidang yang akan datang. Huft... Gue takut sebenarnya

Semangat semuanya!
Ganbatte! 
Doakan kita semua sukses! 
Amin


Sumber gambar:
https://www.google.co.id/search?q=lulus+sidang&dcr=0&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiBpa7b387YAhWLvY8KHY4kAKMQ_AUICigB&biw=1366&bih=662#imgdii=_5TJvIJMFm6jCM:&imgrc=I-bebjWjqvxj1M:

Sabtu, 23 Desember 2017

Hoooliday! - Kawah Putih Bandung


Dingin berasap, kabut bertubrukan, abu bagai abu melayang ke udara. Begitu rupa kawah putih. Tapi buat gue kawah putih bukan cuma sebuah kawah, pasti ada misteri dibaliknya, yang pasti seram bukan cuma sekedar seram. Tapi unik. Gue seneng bisa kesini...

Belum pagi buta gue udah bangun cuma untuk melihat kawah yang emang keindahan semesta ini bisa bikin sulap si penikmat jadi merasa hilang beban atau santai sejenak dari beban hidup, atau bisa dikata pengunjung hadirin sekalian bisa senang dari efek liburan melihat kawah. Gimana bisa? Ini kawah macam danau bersalju mirip yang ada di korea, sayangnya danau ini gak bisa buat dipake main ice skating, nanti kecebur kepanasan.

Dari kota bandung jalan asia afrika gue berangkat ke kawah putih kurang lebih tiga jam perjalanan. Dari jalan beramai yang gak ada kabut asap tebal dinginnya sama sekali, sampai berasa ada di negeri penguin, negeri batu es. Dingin gak pake ampun!  




Ini dia pemandangan parkiran di sekitar kawah putih. Udah ada banyak warung yang jajakin jualan cyin! Tapi sepi, orang sekitar baru pada mulai jajan belanja cantik pas udah balik dari melihat kawah putih. Karena menurut riset gue, orang-orang yang baru sampe di lokasi ini, pasti kepo pingin buru-buru sampe buat ngeliat si kawah putihnya dulu. Bener-bener kepo pingin berasa lagi ada di negeri penguin.



Dari parkiran motor kawah putih dengan biaya tarif 5.000 rupiah, lanjut menuju kawah putih naik ontang anting atau semacam mobil angkot dengan tarif 15.000 per orang, sama biaya masuk kawah putih untuk orang lokal dikenakan 20.000 per orang. Jadi total biayanya sekian...

Naik ontang anting ke kawah diperjalanan selama dua puluh menitan. Semakin jauh trek perjalanan semakin nanjak, semakin dingin pula hawa badan. Gue orang jauh dari pamulang, baru sampe di parkiran kawah putih aja udah menggigil, gak ngerti lagi kalau udah di kawah, gue ngeri die karena kedinginan. Kan kasian jadinya, tapi untung kulit badan masih bisa netralin hawa dingin, gue merasa hebat karena bisa nahan dinginnya kawah putih dengan takaran minus 2 derajat. Aiiihhh matteeeeee 







Keindahan kawah putih bikin gue berasa ada di negeri korea pas lagi musim salju, tapi saljunya lagi enggak turun. Angin dingin bersiyur-siyur yang bikin bulu kuduk gue makin berdiri. Dinginnya bener-bener gak bisa dikasih ampun! Kalau mau kesini, emang bener-bener siapin hawa tubuh yang fit, karena kalau hawa badan lagi sakit, mungkin gampang banget untuk terserang penyakit dari hawa dingin disana. 

Disana hidung gue pilek-pilek, dan karena anginnya kenceng, pasir-pasir disana suka terbang sesuka maunya si pasir, maka itu pengunjung disediain masker untuk nutup hidung supaya enggak keganggu pernafasannya. Karena moment lagi mau foto aja makanya gue buka maskernya, padahal disitu gue lagi nahan supaya ingus enggak keluar huahahaha.



Disana gue ngerasa damai, santai, rileks, dan yang terpenting gue lupa sama beban hidup. Sekitar satu jam gue seneng-seneng di kawah putih, foto-foto, video, duduk santai, ngobrol, nikmatin suasana dan alam, diem, merenung, berfikir, bengong, nguap, kelaperan, benerin rambut berantakan karena anginnya kenceng banget, dan lain sebagainya. Sampai udah gak kuat sama dinginnya gue balik lagi turun ke parkiran buat belanja camilan-camilan gurih yang dijajakin disana. 

Enggak lupa gue foto dulu sama palang 'kawah putih' supaya moment bisa diabadikan sepanjang masa sampai akhir hayat. Cieileh...



Spektakuler pemandangan. Mau menyegarkan mata aja butuh modal, namanya juga hidup ya mau dapet kenikmatan memang mesti dicapai dengan pengorbanan kerja keras dan usaha atau tenaga, baru bisa berasa hasilnya. Cheers for lyfe! Hidup perlu semangat

Click on this!


Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Fransisca Williana Nana
Lihat profil lengkapku

Followers

Google+ Followers

total human

Follow Us

BTemplates.com

About Us

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts